Cari

Perayaan 9000 Guru dan Senandung "Separuh Napas" di Stadion GBK Arena



Schoolmedia News Jakarta == Jarum jam menunjuk pukul 19:00 WIB. Arena Gelora Bung Karno (GBK) yang megah bergetar, bukan karena gempa bumi, melainkan karena kick-drum dari band legendaris: Dewa 19. Di tribun, 9.000 guru yang beruntung—setelah memenangkan undian dari kuota perwakilan 4 juta guru se-Indonesia—melambaikan lightstick dan hafal setiap lirik lagu hits era 90-an.

​Ini adalah puncak perayaan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 yang digadang-gadang sebagai yang termegah. Di panggung utama, sebuah spanduk digital raksasa memajang: "GURU HEBAT, PENDIDIKAN KUAT!" Di bawahnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), yang mengenakan jaket varsity edisi terbatas HGN, memberikan pidato yang berapi-api.

​"Para pahlawan tanpa tanda jasa! Pemerintah sangat menghargai dedikasi Anda. Lihatlah, demi kualitas pendidikan, tahun 2026 kita telah mengalokasikan anggaran pendidikan yang berlimpah ruah! Sebuah bukti nyata komitmen negara!" Ujarnya, disambut sorakan 9.000 guru yang tampak lebih antusias menyambut gitar solo Andra Ramadhan ketimbang janji anggaran.

​Di sudut VIP, sebuah layar kecil menayangkan infografis yang berputar cepat, menampilkan angka-angka fantastis: X triliun rupiah untuk sarana prasarana; Y triliun rupiah untuk digitalisasi; Z triliun rupiah untuk program ‘Sekolah Merdeka Jilid ke-99’. Semua tampak berkilauan, kecuali satu kolom kecil di bawahnya. Kolom itu, dengan huruf yang disamarkan oleh lampu sorot panggung, mencantumkan alokasi yang dikelola langsung oleh Kemendikdasmen untuk kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru.

​Angka itu, jika dianalisis oleh kalkulator seorang guru honorer dengan gaji bulanan di bawah UMR, ternyata kurang dari 8% dari total anggaran pendidikan yang "berlimpah ruah" itu. Sisanya? Menguap di proyek-proyek infrastruktur yang megah, pengadaan tablet berbasis AI yang mahal, dan, tentu saja, biaya produksi konser megah di GBK Arena.

​Saat Ahmad Dhani menyanyikan lirik, "Kukatakan, oh, sungguh aku tak main-main..." ratusan guru honorer di belakang panggung—yang bertugas sebagai kru usher sukarela untuk mendapatkan tiket—berpikir: 'Kami juga sungguh tidak main-main, Pak Menteri. Kami butuh sertifikasi yang dipercepat, gaji yang layak, dan tunjangan yang cair, bukan hanya 'Separuh Napas' janji di atas panggung.

​Malam itu berakhir dengan pyrotechnics spektakuler dan tepuk tangan meriah. Para guru pulang dengan goodie bag berisi kalender, pena berlogo kementerian, dan kenangan indah bahwa mereka pernah satu stadion dengan Dewa 19.

​Sementara itu, di ruangan sepi, seorang guru muda menghitung: 92% anggaran untuk gedung dan gawai, 8% anggaran untuk guru dan gaji. Sebuah ironi yang diiringi dentuman musik rock, bahwa di negeri ini, semangat pendidikan lebih mudah dibeli dengan lagu nostalgia daripada dengan gaji yang menunjang hidup layak.

​Selamat Hari Guru Nasional. Semoga masterpiece pendidikan kita tidak hanya sebatas konser masterpiece di stadion.


Berita Selanjutnya
Jumlah Korban Jiwa dI Sejumlah Provinsi Sumatera Lebih 174 Orang
Berita Sebelumnya
Sejumlah Kementerian dan Lembaga Salurkan Bantuan ke Beberapa Lokasi Banjir di Sumatera

Berita Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar